No Image Available

Diriku dan Cerita Lainnya

More Details
 Deskripsi:

Menjadi Diri Sendiri

Menjadi Diri Sendiri Setiap orang adalah unik dengan kehidupan yang mereka jalani, sehingga tak perlu berpura-pura menjadi orang lain. Namun, menemukan dan mencintai diri sendiri bukanlah hal yang mudah. Seseorang merasa takut menjadi diri sendiri karena mereka merasa diri mereka buruk. Ketika ada orang yang berusaha mendekat, orang tersebut seringkali menghapus dirinya sendiri dari kehidupan mereka karena takut mengecewakan. Namun, di hadapan seseorang yang baru dikenal, mereka menyadari bahwa menjadi diri sendiri bukanlah kesalahan. Mereka diberi pengertian bahwa tetap menjadi diri sendiri adalah penting, tetapi juga perlu tahu bagaimana mengendalikannya. Tak perlu takut untuk menjadi diri sendiri, karena saat melakukannya, seseorang dapat melampaui batasan diri dan menjadi lebih baik.

Belajar dari Sebuah Kepompong

Seorang anak menemukan kepompong kupu-kupu dan melihat lubang kecil di dalamnya. Anak itu iba melihat kupu-kupu yang berjuang untuk keluar, jadi dia memutuskan untuk membantu kupu-kupu tersebut dengan membuka kepompong menggunakan gunting. Kupu-kupu keluar dengan mudah, tetapi memiliki tubuh yang gembung dan sayap yang berkerut. Anak tersebut mengharapkan sayap kupu-kupu akan berkembang sehingga kupu-kupu bisa terbang ke bunga-bunga di taman. Namun, harapannya tidak terwujud. Kupu-kupu tersebut menghabiskan sisa hidupnya merangkak dengan tubuh yang gembung dan sayap yang tidak berkembang dengan baik, sehingga tidak dapat terbang sepanjang hidupnya. Anak itu tidak menyadari bahwa kupu-kupu perlu berjuang sendiri untuk keluar dari kepompongnya. Lubang kecil yang harus dilewati membantu cairan tubuh masuk ke dalam sayap kupu-kupu, memperkuat sayap tersebut untuk terbang dan mencapai kebebasan.

Orang Bijak

Suatu hari, sekelompok orang mengunjungi seorang orang bijak dan mengeluhkan masalah yang sama berulang kali. Orang bijak itu menghibur mereka dengan menceritakan lelucon, membuat mereka tertawa dengan gembira. Setelah beberapa saat, orang bijak menceritakan lelucon yang sama lagi, tetapi kali ini hanya sedikit yang tersenyum, dan beberapa bahkan terlihat murung. Orang bijak mencoba menceritakan lelucon yang sama sekali ketiga kalinya, tetapi tidak ada lagi yang merespons dengan tawa atau senyuman. Akhirnya, orang bijak tersenyum kepada mereka dan berkata, “Jika kalian tidak bisa tertawa dengan lelucon yang sama berulang kali, mengapa kalian selalu mengeluhkan masalah yang sama?” Pesan yang ingin disampaikan adalah bahwa sulit untuk merasakan kegembiraan terhadap hal yang sama berulang kali. Oleh karena itu, tidak ada gunanya mengeluh tentang masalah yang sama berulang kali, karena itu hanya akan membuat hidup menjadi lebih sulit. Berhenti menghabiskan waktu dengan mengeluh, karena itu tidak berguna.

Petani dan Tukang Roti

Cerita ini mengisahkan seorang petani yang menjual mentega kepada seorang tukang roti, sementara petani tersebut juga membeli satu pon roti dari tukang roti tersebut. Suatu hari, tukang roti menimbang mentega yang dibeli dari petani dan menemukan bahwa jumlahnya kurang. Oleh karena itu, tukang roti membawa petani ke pengadilan. Di pengadilan, hakim bertanya pada petani tentang takaran yang digunakan untuk menimbang mentega. Petani menjawab bahwa dia adalah seorang yang primitif dan tidak memiliki takaran. Hakim kemudian bertanya, “Bagaimana kamu menimbangnya?” Petani menjelaskan bahwa sebelum tukang roti mulai membeli mentega darinya, dia telah membeli satu pon roti. Setiap kali tukang roti memberikan roti kepadanya, petani menimbang roti tersebut dan memberikan mentega dengan berat yang sama. Oleh karena itu, jika ada yang harus disalahkan, itu adalah tukang roti. Pesan yang dapat dipetik dari cerita ini adalah bahwa dalam kehidupan, kamu akan mendapatkan apa yang kamu berikan. Oleh karena itu, penting untuk tidak mencoba menipu orang lain.

 Kembali